Saracen dan Spirit Intropeksi Diri

Berbagai dampak yang disebabkan oleh era digitalisasi belakangan ini banyak yang mengarah kepada hal negatif. Manfaat yang dulu dirahapkan pada era ini, era dimana segala sesuatunya bisa dilakukan dengan mudah, simpel dan memberi manfaat bagi orang banyak, justru sebaliknya. Media sosial yang sejatinya dari alasan penciptaan nya sebagai media narahubung jalin silaturahmi yang menjangkau tiap-tiap individu tanpa mengenal jarak dan waktu, malah dimanfaatkan sebagai media mengujar kebencian, menyebarkan fitnah dan saling adu serang.

Saracen, sindikat kasus baru yang muncul beberapa hari belakangan ini dianggap sebagai yang paling bertanggung jawab atas ujaran kebencian dan berita hoax yang tersebar di dunia maya akhir-akhir ini. Apalagi dengan modus operandingnya yang sangat tinggi, terstruktur, sistematis dan juga masif, Saracen dan sejenisnya sangat membahayakan bagi generasi bangsa kedepan.

Kondisi Masyarakat

Dikalangan terdidik, saya yakin masyarakat bisa mencerna dan memilah mana informasi yang hoaks atau tidak. Mereka dapat melakukan check and recheck terlebih dahulu untuk menentukan mana informasi yang layak dikonsumsi atau tidak. Tapi, bagaimana dengan mereka yang berpendidikan rendah? Memilah atau malah langsung menerima begitu saja?

Selain minat baca masyarakat Indonesia yang masih sangat rendah (hanya 0,001% : data Unesco tahun 2012), tradisional literasi read dan digital literasi masyarakat masih minim pula. Mau tidak mau harus diakui bahwa masyarakat Indonesia masih belum bisa berpikir kritis, belum terbiasa berbeda pendapat, kemudian keluar dari argumentasi dan pikiran yang clear seperti itu saja ketika menanggapi sesuatu persoalan. Hal seperti inilah yang tidak bisa dilepaskan dari latar belakang pendidikan yang mereka dapatkan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2014 menyebutkan, bahwa pendidikan masyarakat Indonesia dibawah/setara dengan SD mencapai angka 48%. Hampir seratus juta lebih penduduk Indonesia hanya mampu menyelesaikan pendidikannya dibawah atau setingkat sekolah dasar. Bagaimana bisa dibayangkan ketika dengan latar belakang tersebut mereka berada dalam era globalisasi? Era dimana yang jahat bisa terlihat baik dan yang baik terlihat jahat? “Kebohongan yang diulang-ulang akan dianggap sebagai kebenaran” begitulah kata tokoh propaganda Nazi, Joseph Goebbels.

Orang-orang seperti mereka inilah, yang mungkin dikemudian hari dengan mudah meneruskan informasi yang mereka terima, sharing dan forward ke orang-orang yang dikenal tanpa chek and recheck terlebih dahulu. Padahal, cek paling gampang adalah dengan melihat di media konvensional atau media cetak nasional yang kredibel. Ketika berita itu tidak ada, bisa dicurigai berita itu adalah hoaks. Seperti kata Zen RS, “yang berbahaya dari menurunnya minat menulis adalah : meningkatnya minat komentar.”

Yang Seharusnya Dilakukan

Kehidupan bermasyarakat tidak lekang dari isu, gosip sampai adu domba antar manusia. Keadaan ini diperkeruh oleh adanya sekelompok masyarakat yang menjadikan gosip dan aib serta aurat (kehormatan) orang lain sebagai komoditas perdagangan untuk meraup keuntungan dunia. Bahkan demi tujuan popularitas, ada yang menjual gosip yang menyangkut diri dan keluarganya. Perilaku gosip yang telah menjadi penyakit masyarakat ini tidak disadari oleh kebanyakan pecandunya, bahwasanya menyebarluaskan gosip itu ibarat telah saling memakan daging bangkai saudaranya sendiri. Allah Ta’ala menggambarkan hal demikian itu ketika melarang kaum beriman saling ghibah (menggunjing), sebagaimana tersebut dalam al-Qurân yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa. Jangan pula kalian memata-matai dan saling menggunjing. Apakah di antara kalian ada yang suka menyantap daging bangkai saudaranya sendiri? Sudah barang tentu kalian jijik padanya. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allaah Maha menerima taubat dan Maha Penyayang. [al-Hujurât/49:12].

Seperti inilah agama kita mengajarkan, bahwa tabayyun merupakan pelajaran adab bagi orang beriman dalam menghadapi suatu isu atau berita yang belum jelas. Pelaksanaan perintah tabayyun, merupakan kewajiban kepada orang yang menerima kabar berita dan akan menjatuhkan vonis terhadap pihak yang tertuduh. Tidak dihiraukannya tabayyun dapat berdampak pada kerusakan hubungan pribadi dan masyarakat seperti yang banyak terjadi seperti sekarang ini. Sudah seharusnya kedamaian kita ciptakan dalam diri sendiri dan sebisa mungkin disebar luaskan pada yang lain. Agar keberkahan pengamalan ajaran-ajaran agama bisa didapatkan dan cita-cita Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap lestari ditengah kemajmukan masyarakat Indonesia ini, yakni bhinneka tunggal Ika. Wallahu ‘alam bissowab.

***

Oleh: Abdul Aziz Hakim (Ketua Umum HMI Komfakdisa 2018-2019)

Recommended For You

About the Author: HMI Komfakdisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *