Beli Shampo Tanpa Kantong Plastik, Resolusi Terbaik 2019

Sebagai mahasiswa, sudah sepatutnya bagi kita-kita ini untuk membantu memberikan kontribusi bagi masyarakat sekitar. Karena sesuai amanah kitab suci dan ajaran Tri Dharma perguruan tinggi yang ketiga, pengabdian pada masyarakat, sudah seharusnya mahasiswa mampu memberikan sumbangsih terbaik kepada masyarakat atau yang sering kita dengar agen of change.

Tidak harus saya perinci sebenarnya tentang peran yang seharusnya dilakukan oleh mahasiswa ini, karena hal seperti ini ibarat ngasih tau Cebong tentang kebaikan Jokowi, atau tentang kebaikan Prabowo kepada Kampret. Tentu hal yang sudah sangat dipahami sedari awal. Karena saat pertama masuk kampus, saat masa PBAK atau Opak, civitas akademika dan dosen-dosen selalu menjelaskan ini. Belum lagi ditambah senior-senior di organisasi masing-masing, sudah pekerjaan mereka setiap harinya menjelaskan doktrin agen of change ini.

Namun, setiap orang punya pandangan dan caranya masing-masing. Pun halnya tafsir tentang bagaimana mahasiswa berkontribusi, tentu tiap kepala berbeda-beda. Ibarat cebong dan kampret tadi, masing-masing punya pendapat(an) masing-masing. Karena Kullu Ra’sin Ra’yun, kata pepatah Arab. Beda kepala, beda pendapat pula. Beda pendapat, bukan beda pendapatan.

Menurut saya, ada satu hal yang mungkin bisa diterima sebagai sentimen bersama yang memang dan harus diperjuangkan bersama oleh kita segenap bangsa Indonesia. Yakni masalah lingkungan. Ibarat jaman penjajahan dulu, semua golongan mulai dari suku, agama, ras dan berbagai macam warna kulit yang berbeda, namun seluruhnya mau bersatu padu gegap gempita menumpas penjajahan. Karena memang sama rata sama rasa itu, yakni anti penjajahan.

Suku mana yang mau dijajah? Ras mana yang rela terjajah? Atau agama mana yg membiarkan penjajahan diatas muka bumi ini terus berlangsung kepada segenap pemeluknya? Tentunya tidak ada. Karenanya, sudah sangat tepat jika dulu KH. Hasyim Asy’ari menyerukan resolusi jihad kepada seluruh santrinya untuk bahu membahu memukul mundur Belanda dan Jepang dari tanah air. Atau prinsip ‘merdeka atau mati’nya Tan Malaka ketika itu.

Menyoal lingkungan, tak akan pernah memandang Sara. Bodo amat apapun agamanya, dari suku mana berasal, atau keturunan ras mana dilahirkan, jika tidak dirawat dan dipelihara, lingkungan akan menjadi malapetaka bagi mereka yang menempatinya. Contoh dikosan. Kalau tidak mau terkena Malaria, ya harus menjaga kebersihan kosan. Jangan sampai menjadi sarang Nyamuk. Mulai dari tidak menaruh pakaian sembarangan, membuang (mantan) sampah pada tempatnya, dan menaruh putung rokok di asbak, bukan pada kolong atau pojokan kosan. Karena tempat kotor itulah kesukaan nyamuk. Inna Allaha Laa Yughoiyiru Maa Bi Qaumin Hatta Lama Yugayyiru Maa Bi Anfusihim, kalau kata kitab suci orang Islam. Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali ia mau merubahnya sendiri.

Berbicara lingkungan, tak akan pernah lepas dari sampah. Ditengah kemajuan dan pesatnya teknologi, manusia semakin pintar untuk berkembiak. Tanpa belajar pun sebelumnya, manusia manusia sekarang sudah mahir. Angka peningkatan Jumlah penduduk di Indonesia meningkat 1.19% lebih banyak pada periode 2015-2020. Indonesia tercatat sebagai negara kedua terbesar penikmat bonus demografi dunia. 265 juta penduduk Indonesia. Negara dengan penduduk terbesar keempat dunia setelah China, India dan Amerika. (katadata.co.id/datapublish)

Membahas sampah, tak akan pernah luput dari Plastik. Persoalan ini memang sudah sangat membosankan sebenernya untuk dibahas berulang-ulang. Namun tak bisa dipungkiri, sumber ketidaksehatan lingkungan adalah sampah. Dan sumber sampah adalah berawal dari pola hidup masyarakatnya.

Bayangkan, secara spesifik sampah kantong Plastik, dari 100 toko atau anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Asprindo) dalam waktu satu tahun saja, sudah mencapai 10,95 juta lembar sampah kantong plastik. Ibaratnya, 10 ton lebih sampah itu jika ditumpuk dalam sebidang tanah luas, setara dengan luasan 65,7 hektare tumpukan kantong plastik atau sekitar 60 kali luas lapangan sepak bola. Dari hasil itu, dinobatkanlah Indonesia sebagai juara dua dunia sebagai penghasil sampah plastik ke laut setelah Tiongkok. (KemenLHK 2016).

Data Dirjen Pengelolan Sampah, Limbah, dan B3 KLHK Tuti Hendrawati Mintarsih menyebut total jumlah sampah Indonesia di 2019 akan mencapai 68 juta ton, dan sampah plastik diperkirakan akan mencapai 9,52 juta ton atau 14 persen dari total sampah yang ada.

Asosiasi Industri Plastik Indonesia (Inaplas) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton/ tahun. Kantong plastik yang terbuang ke lingkungan sebanyak 10 milar lembar per tahun atau sebanyak 85.000 ton kantong plastik. (megapolitan.kompas.com)

Coba yang ber ton-ton itu berupa Jagung atau Padi, ibarat tabungan dalam lumbung, tidak akan pernah ada kata lapar bagi rakyat meskipun Donal Trump dan Xi Jinping semakin memanas dalam perang dagang.

Jika terlalu susah membayangkan yang ber ton-ton itu, kita hitung saja dari kalangan mahasiswa. Misal setiap hari minimal kita belanja diwarung-warung sekali, jika ada 32,9% masyarakat Indonesia yang jadi mahasiswa dengan tingkat populasi 80 hingga 107 juta, berarti ada sekitar 7,2 juta sampah kantong plastik yang disumbangkan mahasiswa kepada lingkungannya. Jika itu satu kali sehari, bayangkan jika lebih, dua atau tiga kali. Tinggal ditambahkan kelipatannya. (republika.co.id)

Ayolah, tak perlu koar-koar pinggir jalan dengan dalih memperjuangkan aspirasi rakyat agar bisa dibilang agen of change, atau sok-sokan mendakwa diri sebagai penyambung lidah rakyat kalau setiap hari kantong plastik dari hasil belanja-belaja kita yang itupun uangnya masih minta dari emak-bapak jika sampah kantong-kantong plastik itu masih tak kita perhatikan. Ciliwung banjir, Kali Item yang luar biasa baunya itu dengan jaring dari Anis Baswedan yang bikin kontroversi, tidak lain salah satu faktornya adalah sampah.

Mari berkontribusi kepada masyarakat dengan merawat dan menjaga lingkungan tempat kita tinggal. Tak perlu ribet, cukup dengan tidak menggunakan kantong plastik saat beli dua biji sampo dan satu basreng, itulah anfauhum Linnas yang sebenarnya. Karena seperti tafsir jalalain, untuk bermanfaat bagi orang banyak tak perlu dengan hal-hal besar. Jika hal kecil bisa dilakukan dan sustainable, itulah kebermanfaatan yang sebenarnya.

***

Oleh Abdul Aziz Hakim, Pemimpin Redaksi Ruangonline.com Lapmi HMI Ciputat 2018

Recommended For You

About the Author: HMI Komfakdisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *